Kanban
Kanban, yang secara harfiah berarti “papan sinyal” atau “kartu visual” dalam bahasa Jepang, adalah konsep manajemen kerja yang lahir dari [[Lean Manufacturing]] dan [[Sistem Just In Time (JIT)]] di Toyota pada akhir 1940-an, dipelopori oleh Taiichi Ohno. Awalnya, ini adalah sistem kartu fisik yang memberi sinyal kebutuhan akan material atau produksi, mengubah alur kerja dari sistem “dorong” menjadi sistem “tarik” — di mana produksi dimulai berdasarkan permintaan aktual.
Inti dari Kanban modern adalah visualisasi pekerjaan. Ini diwujudkan melalui [[Papan Kanban]], sebuah representasi visual dari alur kerja tim. Papan ini biasanya terdiri dari beberapa kolom yang mewakili tahapan pekerjaan, seperti “Untuk Dikerjakan”, “Sedang Berlangsung”, dan “Selesai”. Setiap tugas atau item pekerjaan direpresentasikan sebagai “kartu” yang bergerak melintasi kolom-kolom ini, memberikan gambaran jelas tentang status dan progres pekerjaan secara real-time.
Filosofi Kanban dibangun di atas empat prinsip inti yang mendorong peningkatan berkelanjutan:
- Mulai dengan apa yang ada saat ini: Kanban dapat diterapkan pada alur kerja apa pun, tanpa perlu perubahan radikal pada awal.
- Setuju untuk mengejar perubahan inkremental: Fokus pada evolusi bertahap, bukan transformasi besar, untuk mengurangi resistensi dan mengidentifikasi area perbaikan secara alami.
- Hormati proses, peran, dan tanggung jawab yang ada: Kanban tidak menuntut restrukturisasi tim atau hierarki, melainkan bekerja di dalam struktur yang ada.
- Dorong tindakan kepemimpinan di semua tingkatan: Inovasi dan peningkatan dapat datang dari siapa saja, bukan hanya dari “atas ke bawah”.
Untuk menerapkan prinsip-prinsip ini, ada beberapa praktik kunci yang ditekankan:
- Visualisasikan pekerjaan: Membuat pekerjaan terlihat membantu semua orang memahami alur dan status.
- Batasi pekerjaan yang sedang berlangsung (WIP): Mengurangi multitasking dan fokus pada penyelesaian item pekerjaan saat ini untuk mempercepat aliran.
- Kelola alur: Secara aktif memantau dan meningkatkan cara pekerjaan bergerak melalui sistem untuk mengurangi waktu tunggu.
- Buat kebijakan proses secara eksplisit: Mendefinisikan aturan dan konvensi yang jelas untuk membantu tim bekerja secara konsisten.
- Kumpulkan umpan balik: Baik dari pelanggan tentang kualitas produk maupun dari tim tentang efisiensi proses, untuk identifikasi perbaikan.
- Tingkatkan secara kolaboratif: Mendorong eksperimen dan adaptasi berkelanjutan dalam proses kerja.
Meskipun sering dikaitkan dengan [[Agile]] dan digunakan bersama [[Scrum]], Kanban berbeda dalam pendekatannya. Scrum berfokus pada iterasi berjangka waktu (sprint) dan peran tim yang spesifik, sementara Kanban lebih menekankan pada aliran berkelanjutan dan batasan WIP tanpa iterasi tetap atau peran yang ditentukan. Kanban adalah sistem manajemen visual yang fleksibel, memberikan kejelasan dan kemampuan adaptasi, menjadikannya metode yang kuat untuk menyeimbangkan permintaan dan kapasitas, serta mendorong evolusi alami dalam cara kerja tim.